KANTOR :

Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Pulau Selayar No. 21, Denpasar, Bali

Muhammadiyah Emblem

Muhammadiyah Denpasar

GERAKAN ISLAM BERKEMAJUAN

Muhammadiyah Denpasar
pdm denpasar Kota Denpasar
mosque
Muhammadiyah Denpasar

Warta & Berita Resmi

Informasi resmi, agenda kegiatan, serta siaran pers PDM Kota Denpasar.

Lazismu

Bukan Sekadar Rendang, RendangMU Berdayakan Peternak Sapi MBG Karangasem

schedule 2 days ago
chat_bubble_outline 0
bookmark 4 menit baca
Bukan Sekadar Rendang, RendangMU Berdayakan Peternak Sapi MBG Karangasem
"Lazismu Jateng berdayakan perternak Sapi Muhammadiyah Berdaya Guna (MBG) untuk perkuat ekosistem produk RendangMU "

PDMDENPASAR.COM. KARANGASEM — Dari kandang sapi di Karangasem hingga menjadi produk pangan yang menjangkau masyarakat luas, gerakan ekonomi Muhammadiyah terus dibangun dari hulu ke hilir. Melalui program Sapi Muhammadiyah Berdaya Guna (MBG), Lazismu Jawa Tengah bersama jaringan Muhammadiyah di Bali mendorong peternak sapi Muslim untuk menjadi bagian dari rantai pasok RendangMU, sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Penguatan program tersebut dilaksanakan di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini mempertemukan unsur Muhammadiyah Jawa Tengah, Muhammadiyah Bali, Muhammadiyah Denpasar, Lazismu, serta PDM Karangasem dalam upaya membangun ekosistem peternakan dan pengolahan pangan yang saling menguatkan.


Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PWM Jawa Tengah KH Dr. Tafsir, M.Ag., Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah Dwi Swasana Ramadhan, Ketua PWM Bali Husnul Fahmi, PDM Kota Denpasar , Lazismu Denpasar, Ketua PDM Karangasem Harsono, Ketua PCM Bebandem Agus Tofa , perwakilan peternak muslim dan anggota PCM Bebandem.


Karangasem Punya Potensi Besar
Ketua PDM Karangasem, Harsono, menyampaikan bahwa Karangasem memiliki potensi besar dalam pengembangan dan penyediaan sapi, termasuk untuk kebutuhan hewan kurban.
Potensi tersebut tidak hanya berasal dari peternakan berskala besar. Sebagian besar peternakan masyarakat masih dikelola dalam skala keluarga, namun memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara terintegrasi.


“Karangasem memiliki potensi besar dalam pengembangan dan penyediaan sapi hewan kurban, walaupun masih dalam skala peternakan keluarga,” ujar Harsono.
Potensi peternakan rakyat tersebut menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan program Sapi Muhammadiyah Berdaya Guna.


Tafsir: Saatnya Muhammadiyah Bergerak dari Konsumen Menjadi Produsen
Ketua PWM Jawa Tengah, KH Dr. Tafsir, M.Ag., menekankan pentingnya membangun semangat kewirausahaan sosial atau sociopreneurship di lingkungan Muhammadiyah.


Menurut Tafsir, penguatan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Muhammadiyah perlu terus menghadirkan model gerakan yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga menciptakan kemandirian ekonomi.


“Semangat hijrah juga harus menjadi semangat membangun kekuatan ekonomi. Sudah saatnya kita bergerak dari konsumen menjadi produsen,” kata Tafsir.


Ia mendorong agar Muhammadiyah mampu membangun mata rantai ekonomi secara utuh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Peternakan sapi, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada aktivitas pemeliharaan dan penjualan ternak. Potensi tersebut perlu dihubungkan dengan proses pengolahan, pemasaran, hingga distribusi produk sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.


Enam Tahun RendangMU, Ekosistem Mulai Diperkuat
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, mengatakan pengembangan Sapi MBG merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem RendangMU yang telah berjalan selama enam tahun di Bali.


“Ini sudah tahun keenam kami menjalankan RendangMU di Bali. Karena itu, yang ingin kita bangun berikutnya adalah ekosistemnya. Sapinya bisa berasal dari Karangasem, Kintamani, dan daerah lain di Bali, kemudian diolah di Bali dan manfaat ekonominya juga kembali kepada masyarakat Bali,” jelas Dwi.


Menurut Dwi, pengembangan ekosistem tersebut menjadi penting karena kebutuhan bahan baku RendangMU terus meningkat.
Pada masa awal pelaksanaan, jumlah sapi yang dikelola masih berada pada kisaran 30–50 ekor. Dalam pelaksanaan terakhir, jumlah tersebut telah berkembang menjadi 487 ekor sapi.


“Ke depan kita menargetkan sekitar 500 sampai 600 ekor. Karena itu, kebutuhan sapinya cukup besar dan kami berharap peternak di Bali dapat menjadi bagian dari rantai pasok tersebut,” tambahnya.


RendangMU, dari Peternakan hingga Respons Kebencanaan
RendangMU tidak hanya dikembangkan sebagai produk pangan, tetapi juga memiliki fungsi sosial. Produk tersebut memiliki daya simpan yang panjang, sehingga dapat menjadi salah satu pilihan pangan siap saji yang mudah didistribusikan ketika terjadi kondisi darurat.


Dwi menjelaskan, produk RendangMU dapat disimpan hingga sekitar dua tahun. Selain disalurkan kepada masyarakat, produk tersebut juga dimanfaatkan sebagai salah satu pangan siap saji dalam berbagai respons kebencanaan.


Hal ini membuat pengembangan rantai pasok RendangMU memiliki dimensi yang lebih luas. Peternak di sektor hulu tidak hanya terhubung dengan industri pengolahan, tetapi juga dengan gerakan sosial dan kemanusiaan Muhammadiyah.
Membangun Ekosistem Ekonomi dari Bali


Melalui program Sapi Muhammadiyah Berdaya Guna, Lazismu Jawa Tengah berharap terbentuk ekosistem pemberdayaan yang semakin kuat di Bali.
Peternak Muslim Bali ditempatkan sebagai bagian penting dari sektor hulu. Sementara itu, pengolahan RendangMU menjadi penghubung menuju pemasaran, distribusi, dan kebermanfaatan yang lebih luas.


Dengan pola tersebut, pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian bantuan kepada masyarakat, tetapi diarahkan pada terciptanya rantai ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.


Dari Karangasem, gerakan ini membawa pesan sederhana namun strategis: peternakan rakyat dapat menjadi kekuatan ekonomi umat ketika dihubungkan dengan pengolahan, pasar, dan gerakan sosial.


RendangMU pun bukan sekadar produk rendang. Di baliknya terdapat ikhtiar untuk menghubungkan peternak, ekonomi umat, filantropi, pangan, dan dakwah pemberdayaan dalam satu ekosistem Muhammadiyah yang berdaya guna.

arrow_back Kembali ke Berita
Bagikan Berita:
Tautan Disalin!